| Glaukoma Si Pencuri Penglihatan |
| Written by dr.Rozalina L.Zulkarnain, Sp.M | |
![]() Glaukoma adalah penyakit yang merusak saraf mata dan mempersempit lapangan pandang seseorang, dimana hal ini terjadi akibat tekanan bola mata yang tinggi. Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor 2 di Indonesia setelah kebutaan karena katarak. Namun, berbeda dengan katarak, kebutaan yang disebabkan oleh glaukoma tidak dapat disembuhkan lagi, akan tetapi dapat dicegah. Gambar diambil dari www.theeyefoundation.com/glaucoma.htm
Didalam bola mata terdapat cairan mata yang bening yang disebut humor akuos. Cairan ini akan mengalir dari tempat produksinya ke saluran keluarnya yaitu jaringan trabekula. Bila saluran keluar tersebut tersumbat, maka cairan itu tidak dapat keluar dari dalam bola mata dan menimbulkan peningkatan tekanan dalam bola mata yang kemudian dapat merusak syaraf mata.
Glaukoma sendiri dibagi berdasarkan bentuk sudut dan onset kejadiannya. Ada empat jenis glaukoma, yaitu: 1. Glaukoma Kongenital 2. Glaukoma Primer sudut tertutup 3. Glaukoma Primer sudut terbuka 4. Glaukoma sekunder Glaukoma Kongenital Glaukoma ini terjadi sejak lahir, dimana sudut bilik mata depan terbentuk secara tidak normal. Gejala yang timbul pada bayi ialah:- Bola mata tampak lebih besar dari normal - Kornea mata tampak tidak jernih - Sering silau dan keluar air mata bila melihat cahaya Gambar diambil dari http://www.bayshoreophthalmology.com Penderita glaukoma kongenital harus segera dibawa ke dokter spesialis mata untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Glaukoma Primer Sudut Tertutup Glaukoma Primer Sudut Tertutup ini terjadi karena sudut bilik mata depan tertutup secara mendadak dan menyumbat aliran cairan akuous humor. Sebagai akibatnya tekanan intrakular akan tinggi dengan mendadak dan menyebabkan : - Mata merah - Tajam Penglihatan menurun - Tampak pelangi bila melihat lampu - Mata dirasakan sangat nyeri dan cekot cekot - Mual bahkan sampai muntahSakit kepala Gambar diambil dari http://www.jeffmann.net Glaukoma jenis ini merupakan kegawatdaruratan mata. Penderita harus segera dilakukan pertolongan oleh dokter spesialis mata untuk menurunkan tekanan intra okular. Bila tidak segera diobati, Glaukoma jenis ini dapat menimbulkan kebutaan karena kerusakan pada papil syaraf mata. Glaukoma Primer Sudut Terbuka Pada Glaukoma jenis ini, jaringan trabekula sebagai saluran keluarnya cairan humor akuous tersumbat dan menyebabkan peningkatan tekanan intra okular secara perlahan lahan. Peningkatan perlahan dari tekanan intra okular ini dapat menimbulkan perusakan pada papil syaraf mata.Gambar diambil dari http://www.clevelandsightcenter.org Pada penderita Glaukoma Primer Sudut Terbuka ini, penurunan tajam penglihatan dan lapang pandangan terjadi secara perlahan-lahan dan tanpa rasa sakit. Sehingga penderita tidak menyadari kondisi matanya. Hal ini mengakibatkan terjadinya kebutaan akibat kerusakan syaraf mata yang tidak dapat ditolong lagi. Glaukoma Sekunder Pada Glaukoma Sekunder ini, kondisi kerusakan dari sudut bilik mata depan ialah disebabkan oleh hal-hal yang diketahui, seperti:
Deteksi dan Pemeriksaan Glaukoma Pada usia lebih dari 40 tahun, deteksi dini penyakit Glaukoma sebaiknya dilakukan. Tekanan mata yang normal berkisar antara 10 mmHg sampai dengan 20 mmHg. Jadi diatas 21 mmHg akan dicurigai sebagai Glaukoma. Untuk itu, deteksi dini tekanan bola mata sangat diperlukan. Pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata dilakukan secara teratur untuk memeriksa hal – hal tersebut dibawah ini - Mengukur tekanan bola mata (intra okular) denganTonometer - Memeriksa kondisi sudut bilik mata depan dengan alat gonioskopi - Memeriksa lapang pandangan penderita dengan perimetri - Memeriksa kondisi syaraf mata penderita dengan oftalmoskop dan lensa khusus. Gambar diambil dari http://eyedoctor.homestead.com/Glaucoma Beberapa pemeriksaan diatas akan diulangi secara periodik untuk mengetahui adanya progresifitas kerusakan dari saraf mata. Penanganan Glaukoma Penanganan tingkat pertama dari Glaukoma ialah dengan obat-obatan yang bertujuan untuk menurunkan tekanan intra okular dari penderita. Ada dua mekanisme kerja dari obat-obatan Glaukoma yaitu menurunkan produksi cairan humor akuous atau melancarkan pengeluaran cairan humor akuous itu. Agar mencapai hasil yang efektif dalam penurunan tekanan intra okular, maka obat-obatan ini harus dipakai terus menerus dan secara teratur. Karena tidak jarang obat-obatan Glaukoma ini dapat memberikan efek samping, maka pemakaian obat-obatan Glaukoma ini harus selalu dibawah pengawasan dokter spesialis mata. Apabila pengobatan secara medis tidak efektif, maka dokter spesialis mata akan mempertimbangkan pengobatan secara LASER maupun pembedahan baik iridektomi maupun Trabekulektomi. Yang perlu diingat dalam penanganan Glaukoma, penderita dan dokter adalah satu team. Yang diobati dan dipertahankan adalah tajam penglihatan dan lapang pandangan dari penderita. Karena itu, penderita harus patuh pada petunjuk pengobatan dari dokter spesialis mata dan jangan sekali-kali menghentikan atau mengganti pengobatan tanpa konsultasi terlebih dahulu. Pemeriksaan mata secara teratur oleh dokter spesialis mata adalah suatu keharusan. Dan sangat penting sekali untuk memberitahukan kepada dokter mengenai obat-obatan yang anda pakai. |
|
| Last Updated ( Jumat, 24 April 2009 ) |